Selasa, 08 November 2011

SEJARAH Lahirnya KONDOSAPATA 1: PROLOG

Rangkaian tulisan "Sejarah Lahirnya Kondosapata" adalah karya Octovianus Danunan, seorag jurnalis asal Mamasa yang kini menetap di Timika, Papua. Beliau saat ini bergabung dengan Grup Jawa Pos, ditugaskan di kota Timika memimpin salah satu perusahaan penerbitan Grup Jawa Pos bernama PT Timika Media Utama, jabatan Direktur, sekaligus Pemimpin Redaksi Radar Timika, salah satu terbitan PT Timika Media Utama. "Setelah pensiuan sebagai jurnalis, saya ingin menjadi penulis buku," katanya.

SAAT ini penulis masih sedang mendalami beberapa referensi termasuk tulisan bapak Drs. Adrianus Mandadung yg saya boleh sebut "Tokoh Sejarah Mamasa" beliau sejak dari muda, sampai masa pensiunnya sangat peduli mengumpulkan berbagai referensi, bahkan menuliskan bukunya. Namun ada beberapa isi tulisan itu yg perlu saya kaitkan dgn buku yg pernah saya baca, apakah betul nenek moyang kita NENEK PONGKAPADANG yg menentang sistem kasta (perdedaan strata sosial di tanah asalnya Tana Toraja, lalu hijrah bersama anak dan orang-orangnya, termasuk membawa anjing buruannya ke wilayah KONDOSAPATA.

Yang pasti kecocokan itu banyak yg saya temukan, bahwa para sejarawan orang Mamasa juga mengakui bahwa nenek moyang orang Mamasa bernama PONGKAPADANG, diakui berasal dari Tana Toraja.
Juga menurut para sejarahwan orang Toraja bahwa seorang tokoh orang Toraja yg hijrah ke wilayah paling Barat Toraja (wilayah kondosapata) karena perbedaan pandangan politik atau idealisme tentang sistem kasta di Toraja. Menurut sejarah orang Toraja (dalam buku yg pernah saya baca) bahwa tokoh yg Hijrah itu adalah org yg menentang perbedaan kasta atau diskriminasi sosial di TORAJA.

Nah, pertanyaan sekarang, apakah tokoh yg menentang perbedaan kasta itu adalah betul NENEK PONGKAPADANG, atau PONGKAPADANG adalah generasi dari tokoh yg tdk disebut namanya itu.

Soal perjalanan NENEK PONGKAPADANG dari Toraja menuju Buntu Bulu dan Tabulahan hingga kawin dengan NENEK TORIJE'NE', berapa anaknya, serta cucunya dan wilayah yg dikuasainya (PITU ULUNNA SALU KARUA BA'BANA MINANGA), saya rasa referensinya cukup dari beberapa buku dan sumber dari buku karangan Drs. Arianus Mandadung cukup absah karena sejumlah tokoh yg diwawancarai adalah tokoh-tokoh terpelajar, memegang kedudukan dan pemuka-pemuka adat serta sejumlah sumbernya juga adalah pemegang kekuasaan di Mamasa dan juga sejarahwan waktu itu. Sejumlah sumber bahkan sebahagian besar tokoh yg diwawancarai sdh meninggal dunia. Tapi pendapat, keterangan dan pesan-pesan orang tua (PEPASAN KADA NENEK) serta kebiasaan hidup leluhur yg boleh dikata masih hidup wktu itu (KABIASAAN TOMATUA) mereka masih alami.

HAL lain yg perlu dikaji juga, bahwa nenek PONGKAPADANG sendiri meninggalkan simbol-simbol keadilan yg menentang ketidak adilan dan diskriminasi sosial. Contoh simbol-simbol kebersamaan dan keadilan itu justru dijadikan motto dan semangat hidup orang Mamasa (KONDDSAPATA), yakni "MESA KADA DIPOTUO, PANTAN KADA DIPOMATE". Beberapa motto hidup yg berlaku dalam masyarakat yg bermakna cinta keadilan dan menentang diskriminasi sosial atau adanya kasta, seperti "SITAYUK, SIKAMASEI, SIRANDE MAYA-MAYA".

Selain itu, adat istiadat yg mendukung sikap menentang perbudakan di wilayah Kondosapata, adalah masyarakat di wilayah ini memegang teguh asas pengampunan, asas mencari solusi dan pengampunan bagi orang yg bersalah. Di Kondosapata disebut ADA' TUO (Adat Hidup).

Namun ada juga kebiasaan hidup yg bertentangan dengan motto dan simbol-simbol ketidak adilan yg berlaku di Kondosapata, seperti di wilayah ini juga ternyata dikenal perbedaan kasta atau diskriminasi sosial. Inilah yg perlu dikaji dan didalami, sejak kapan sistem kasta berlaku di Kondosapata, saiapa yg membawa masuk ke Mamasa, karena berdasarkan falsafah yg ditinggalkan nenek moyang kita PONGKAPADANG, kasta itu tidak diterima oleh leluhur kita. Seperti motto MESA KADA, KONDOSAPATA UAI SAPALELEAN.
Semua ini perlu dikaji dan diteliti secara ilmiah agar sejarah betul-betul dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini sengaja saya kemukakan agar tdk menjadi perdebatan, biarlah semua wacana yg kita kemukakan akan memperkaya sejarah kita dan sekali wktu kita memiliki sejarah yg benar-benar hasil kajian ilmiah. Tapi kita warga Kondosapata, sungguh aneh kalau tidak mengenal sejarah, adat istiadat, dari mana sal usulnya, serta prinsip hidupnya. Saya berharap, semua warga Mamasa akan berpartisipasi melalui grup di Jejaring Sosial ini (social network), untuk menyumbang pikiran, sekaligus bertukar informasi dan mendalami sejarah KONDOSAPATA. Semoga semakin banyak Jejaring Sosial yg menyebarluaskan sejarah Mamasa, seperti bloger.com, frienster.com, Multiply.com bahkan jejaring sosial yg sedang melanda dunia Cyber interconected (Internet) agar sejarah Kondospata abadi, mendunia bahkan sekali waktu menjadi sejarah warisan bagi anak cucu kita yg tidak akan pernah hilang karena tersipan dalam berbagai jejaring sosial di dunia. Mungkin pula ada pakar sejarahwan dari luar negeri yg membaca referensi ini tertarik melakukan penelitian tentang sejarah KONDOSAPATA. Tapi saya berharap, kaum terpelajar yg membidangi sajarah yg melakukan penelitian ilmiah tentang sejarah kita sendiri.

Minggu, 06 November 2011

Aluk Toraja (1) - Asal mula aluk toraja

tipamulanna aluk ditampa dao langi


Malemi Puang Matua rokko rampe matampu'
Unnembong bulaan tasak ponno sepu'na diong to' mata uai.
Umpatiangka'mi bate lentekna to kaubanan rokko to' kabo'toran kulla',
usseno tingngi nene' tangkarauan lempan karapi'na diong to' kalimbuang boba.

Sulemi Puang Matua diong mai rampe matampu',
tibalikmi to kaubanan diong mai to' kabo'toran kulla'
nabolloan barra'mi Puang Matua bulaan tasak tama Sauan Sibarrung,
nabukku' emboranmi to kaubanan nene' tangkarauan tama suling pada dua.

Napasarussui'mi Puang matua tu Sauan Sibarrung
napatarrakkimi to kaubanan tu suling pada dua.
Dadimi nene' to sande karua lan mai Sauan Sibarrung.
takkomi todolo kasaunganna to ganna' bilanganna lan mai suling pada dua

Pada umposanga sanganna
umpopaganti pa'gantiananna.

Orang toraja berasal dari langit. Demikian yang dipercaya dalam aluk todolo, keyakinan dan ajaran hidup orang toraja dahulu. Ini juga terangkum dalam kutipan syair toraja tentang kisah penciptaan. Dalam kepercayaan aluk todolo, tidak hanya manusia saja, tetapi juga kerbau, ayam, kapas, hujan, besi, bisa, dan padi sebagai unsur dasar alam ini, dibuat dan diturunkan dari langit. Adalah Datu' Laukku sebagai nenek moyang manusia. Ia dibuat langsung oleh Sang Pencipta bernama Puang Matua, dari bahan emas murni, dengan perantaraan Sauan Sibarrung.

Datu Laukku dan keturunannnya tetap hidup di langit hingga beberapa generasi, dan yang pertama kali diturunkan ke bumi adalah Pong Bura Langi.

Di bumi, Pong Bura langi' kemudian mempunyai keturunan yang pertama dan disebut Pong Mula Tau, itulah manusia pertama.

Namun Pong Bura Langi' bukanlah satu-satunya yang turun dari langit. Keturunan Datu Laukku lainnya juga turun ke Bumi. Di antara yang turun dari langit adalah Puang Soloara di Sesean, Puang Tamboro Langi (Sawerigading) di Kandora, dan Puang ri Kesu di Gunung Kesu. Mereka ini disebut tomanurun di langi' - Orang yang turun dari langit. Kali ini toraja tidak sendirian menganut kepercayaan tomanurun di langi. Suku-suku lain yang mendiami semenanjung sulawesi selatan juga percaya adanya tomanurun di langi', hanya mengenai tempat kedatangannya sangat bervariasi.

ASAL USUL ORANG MAMASA

Bersamaan dengan terbitnya matahari di Ulu Sa’dang Rante pao yang sekarang di kenal dengan nama Tanah Toraja, berjalanlah dari sana enam orang laki-laki yang berbadan besar-besar, ada orang yang menganggap bahwa ke enam orang ini adalah bersaudara. Mereka ini adalah pengembara-pengembara. Adapun nama-nama mereka adalah sebagai berikut:

Puang Rimulu’
Mangkoana (Lando Belue’)
Pongka Padang
Bombong Langi’
Lando Guntu’
Lombeng Susu.
Keenam laki-laki ini tidak ada orang yang tau dari mana asal mereka. Lalu mereka masing-masing memilih daerah yang mereka senangi untuk di duduki sekaligus di jadikan daerah tempat tinggal, antara lain:

Puang Rimulu’ tinggal di Rantepao (Tanah Toraja)
Lando Belue’ pergi ke Bone dan tinggal di sana,
Bombong Langi’ ke Masuppu
Lando Guntu’ ke Duri
Lombe susu ke Lohe Galumpang
Pongka Padang terus ke Tabulahan.

Adapun yang akan kami ceritakan disini ialah bagaimana perjalanan Nene’ Pongka Padang, karena dialah yang menjadi nene’ moyang kami orang Tabulahan.

Pada waktu itu Pongkapadang berangkat dari Sa’dan dengan tidak merasa lelah, dia terus menelusuri gunung yang satu ke gunung yang lain yaitu: Dia meneleusuri Gunung Kepa’, kemudian terus lagi dan melewati Gunung Landa Banua, dan terus lagi melewati Gunung Mambulillin, dan terus lagi menuju Gunung Buntu Bulo ahirnya dia tiba di suatu daerah yang sekarang dikenal dengan nama “Tabulahan” yang pada waktu itu masih berupa hutan belantara, yang ditumbuhi bambu-bambu kecil (“bulo” dalam bahasa Tabulahan). Daerah ini dulu dikenal dengan nama “Bulo Mahpa”, dan belum ada satu orangpun yang tinggal di daerah tersebut.

Pada waktu Pongka Padang melakukan pengembaraan, dia di sertai dengan dua orang pengawal yang mempunyai tugas masing-masing yaitu:

1. Satu orang Pembawah gong (Padalin)
2. Satu orang Pembawah Pedang dan sepu’ (jimat-jimat, pakaian dan lain-lain).

Nama ke dua orang pengawal tersebut hanya satu orang yang di ketahui namanya sampai sekarang yaitu: ta “Malillin/Mambulillin”. Akan tetapi dalam perjalanannya Mambulillin terserang penyakit yang parah, sehingga mereka harus tinggal di atas sebuah Gunung. Namun tidak beberapa hari lamanya mereka tinggal di atas gunung tersebut, ternyata keadaan Mambulillin semakin parah dan akhirnya meninggal dunia lalu Pongka Padang menguburkan di atas gunung itu. Itulah sebabnya gunung itu diberi nama: “Gunung Mambulillin” sebab tempat di kuburkannya Mambulillin.

Nene’ Pongka Padang meneruskan lagi perjalanannya bersama seorang pengawalnya, tapi sayang sekali sebab nama pengawal tersebut tidak di ketahui sampai sekarang. Namun sejarah membuktikan bahwa memang masih ada satu orang pengawal yang berjalan dengan Pongka Padang pada waktu itu sampai di Gunung Buntu Bulo di Tabulahan. Kemudian hari baru mulai muncul nama “Polo Padang”, tapi sampai sekarang tidak ada yang bisa memastikan kalau memang betul itu adalah “Polopadang” yang dimaksud.

Dalam pengembaraan Pongkapadang, dia sanggup menelusuri semua daerah sampai di pinggiran pantai. Akan tetapi dia tidak menemukan suatu daerah yang cocok baginya. Dan akhirnya dia kembali ke Gunung Buntu Bulo di daerah Tabulahan dan tinggal di atas. Setelah beberapa hari tinggal di atas gunung itu, dia mulai mengalami mimpi-mimpi yang baik dan merasakan bagaimana sejuknya cuaca yang ada di gunung itu dan juga nyamuk tidak terdapat di situ. Maka dia memutuskan untuk bertempat tinggal di atas Gunung itu.

Pada suatu waktu Pongka Padang melayangkan pandangannya ke sekitar daerah itu karena ingin melihat bagaimana keindahan pemandangan alamnya, tiba-tiba tampak olehnya asap api yang membumbung tinggi kelangit di gunung sebelah barat dari tempatnya. Melihat asap itu, dia sangat heran dan terkejut sekali, karena dia berpikir: ‘Bagaimana mungkin ada orang lain tinggal disini? Bukankah baru saya yang menduduki daerah ini? Oleh karena itu, gunung Tersebut dia beri nama Gunung “Kapusaang” yang artinya Gunung “keheranan” (bahasa tabulahan “Pusa’ artinya heran”), karena heran melihat asap api yang ada di gunung itu.

Apa yang di lakukan selanjutnya oleh Pongka Padang ialah mengutus pengawalnya ke gunung tersebut untuk mencari tau apa sebenarnya yang ada di sana. Lalu pengawalnyapun pergi dengan pesan dari Pongka Padang katanya: “Pergilah ke gunung yang di sebelah itu untuk melihat siapa gerangan yang ada di sana, dan kalau kau sampai di sana lalu kau memdapati seseorang, silahkan tanyakan siapa namanya dan dari mana dia datang.” Lalu pengawalnya ini pergi seturut apa perintah majikannya. Setibanya di sana diapun sangat keheran-heranan ketika dia melihat seorang wanita yang sangat cantik sekali berambut panjang dan berkulit putih bersama dengan seorang pengawalnya.

Dengan perasaan takut dan ragu-ragu, si pengawal ini menghampiri wanita tersebut dan berkata kepadanya: ”Saya datang diutus oleh majikan saya untuk menemui anda sebab dia telah melihat ada asap di sekitar daerah ini dan ternyata benar ada orang yang tinggal disini. Dan saya juga di suruh untuk menanyakan siapa nama anda dan berasal dari mana?” Lalu perempuan itu menjawab katanya: “Pulanglah kembali ke pada majikanmu dan katakan; ‘Nama saya ialah “Torije’ne’” yang artinya “orang yang datang dari laut”, karena saya memang datang dari laut dengan memakai perahu, dan nama pengawal saya adalah “Pue Mangondang”. Sesudah itu maka pengawal Pongka Padang ini pulang kembali ke Gunung Buntu Bulo untuk menyampaikan semuanya itu kepada Pongkapadang.

Sesampainya di atas, bertanyalah Pongka Padang kepadanya demikian: “Apa yang kau dapati di sana?” Pengawal itu menjawab: “Saya mendapati dua orang di sana, yang satu perempuan cantik berambut panjang dan berkulit putih, dan yang satu lagi laki-laki sebagai pengawalnya. Yang perempuan bernama “Torije’ne’” dan pengawalnya bernama “Pue Mangondang”, selain sebagai pengawal, Pue Mangondang juga adalah saudara sepupu dari Torije’ne’. Mereka katanya berasal dari laut dengan memakai perahu.” Lalu berkata lagi Pongka Padang kepada pengawalnya: “Kau pergi lagi ke sana dan katakan kepada mereka; ‘Bolekah kita tinggal bersama-sama di satu tempat?’” Lalu pengawal itupun pergi lagi untuk kedua kalinya. Setelah sampai di sana dia berkata kepada Torije’ne’ katanya: “Majikan saya menyuruh menanyakan apakah anda setuju jika kita tinggal bersama-sama dalam satu tempat? atau bagaimana? Lalu Torije’ne’ menjawab: “Ya, baiklah. Sekarang kau kembali kepada majikanmu dan katakan; ‘Boleh, tapi saya minta kalau dia bisa kemari karena saya ingin bertemu dengan dia.” Pengawal itu pulang dengan perasaan senang kepada majikannya dan menyampaikan segalah apa yang dikatakan oleh Torije’ne’

Pongka Padang sangat gembira dan senang mendengar apa yang disampaikan oleh pengawalnya itu, dimana perempuan itu ingin bertemu dengannya dan setuju untuk tinggal bersama di satu tempat. Pada saat itu juga Pongka Padang mempersiapkan segalah sesuatunya dan dia berangkat menuju Gunung Kapusaang tempat dimana perempuan itu berada. Sesampai disana, Torije’ne’ langsung menyambut dia dengan baik dan dia bertanya: “Siapa nama anda?” Jawab Pongka Padang :”Nama saya Pongka Padang , yang artinya “sudah banyak gunung saya telusuri sampai saya bisa tiba di daerah ini”. Nama saya yang sebenarnya ialah: Puang Rilembong, tapi karena sudah banyak gunung yang saya telusuri sehingga saya memberi nama diri saya Pongka Padang.” Torije’ne’ melanjutkan pertanyaannya dengan mengatakan: “Apa rencanamu untuk datang ke mari?” Tapi Pongka padang balik bertanya katanya: “Bagaimana ceritanya sehingga kau bisa sampai di sini?” Torije’ne’ menjawab: “Saya ini datang dari laut dengan memakai perahu pada waktu air pasang, lalu perahu saya ini terkandas di atas gunung ini. Setelah air kembali surut perahu saya tidak bisa lagi di tarik ke laut sehingga saya tinggal saja di gunung ini. Jadi nama saya Torije’ne’ yang artinya: “Orang yang datang dari laut”. Lalu kata pongka padang: “Bagaimana kalau kita tinggal bersama di suatu tempat? Torije’ne’ menjawab katanya: “Kenapa tidak, itu sangat baik.”

Pada waktu itu Pongka Padang dengan Torije’ne’ mulai bermalam bersama-sama di atas Gunung Kapusaang selama tiga malam, dan pada waktu itu juga mereka resmi menjadi suami istri. Setelah sampai tiga malam tinggal di kapusaang, berkatalah Pongka Padang: ”Bagaimana kalau kita pergi dan bermalam lagi di Gunung Buntu bulo, gunung yang di sebelah itu? Torije’ne’ menjawab: ”Baiklah”. Lalu mereka pergi menuju Gunung Buntu bulo, dan bermalam di atas gunung itu. Setelah sampai tiga malam mereka bermalam di atas, berkatalah Pongka Padang: “Menurut kamu bagaimana perbedaan antara Gunung Kapusaang denga Gunung Buntu bulo ini? Torije’ne’ menjawab katanya: “Saya rasa baik di sini” Kata Pongka Padang lagi: “Jadi bagaimana kalau kita buat rumah di sini?” Torije’ne’ menjawab: “Terserah kamu. Saya tidak katakan ia dan juga tidak. Pokoknya terserah kamu sebab laki-laki yang menentukan bukan perempuan, hanya saja sebab perahu dan lesung bersama antan saya masih ada di gunung kapusaan.” Lalu kata Pongka Padang: “Biarkan saja tinggal di sana nanti kalau ada kesempatan bisa kita lihat ke sana, ini saya katakan sebab daerah ini sangat baik untuk kita tempati, juga aman sebab bukan hanya saya yang merasakan tapi kamu juga sudah merasakannnya ya?.” Lalu jawab Torije’ne’: ”Ia, saya juga rasakan bagaimana bagusnya daerah ini, dan saya juga senang tinggal di sini.”

Mulai saat itu mereka tinggal di atas Gunung Buntu bulo sampai mereka mempunyai tuju orang anak, yang di kenal dengan nama “To Pitu” yang artinya “Ketuju orang”. Adapun nama-nama mereka ialah;

Daeng Manganna
Mana Pahodo(Buntu Bulo)
Simba’ Datu
Pullao Mesa
Daeng Lumalle
Bura’ Le’bo’
Pattana Bulan

Ketuju orang ini tidak ada yang pergi meninggalkan Tabulahan, mereka semua tinggal dan bermukim di Tabulahan sampai mereka menjadikan lagi keturunan yang dikenal dengan “To Sampulo mesa” artinya “Keseblas orang”.

Adapun nama-nama keseblas orang ini dan tempat tinggal mereka ialah:
Dettumanan di Tabulahan
Ampu Tengnge’(tammi’) di Bambang
Daeng matana di Mambi
Ta Ajoang di Matangnga
Daeng Malulung di Balanipa(Tinambung)
Daeng Maroe di Taramanu’ (Ulu Manda’)
Makke Daeng di Mamuju
Tambuli Bassi di Tappalang
Sahalima di Koa(Tabang)
Daeng Kamahu (Ta Kayyang Pudung) di Sumahu’ (Sondoang)
Ta La’binna di Lohe Galumpang(Mangki tua).

sumber : http://mamasa-online.blogspot.com